🎋 Makalah Fungsi Dan Tujuan Pendidikan
Tujuanpendidikan adalah menjadikan anak-anak anggota masyarakat yang baik, yaitu anggota masyarakat yang memiliki keterampilan praktis dan pandai memecahkan masalah sosial sehari-hari. 4. Menurut konstitusi. Negara Indonesia memiliki tujuan pendidikan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 dan UU No. 20 tahun 2003.
Kaitannya dengan hal ini sebagai pendidik tentulah kita harus mengetahui fungsi dan tujuan pendidikan di negara ini dengan ke fleksibelan yang memang membawa kita ke taraf kehidupan globalisasi ini. Pada makalah ini akan di bahas mengenai tujuan dan fingsi pendidikan. B. Rumusan Masalah . Pada makalah ini ada beberapa rumusan masalah
Makalahperkembangan Seni Rupa. Ruang Lingkup Pendidikan Islam. a. Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan - perubahan lingkungan. b. Membantu dalam kristalisasi penyesuaian masalah - masalah utama. c. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran. d. Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.
A Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, sepiritual, ataupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. B. Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komunikasi, supervisi, kepengawasan
BerdasarkanUndang Undang No. 2 Tahun 1985, tujuan pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga untuk mengembangkan manusia yang seutuhnya. Maksud dari manusia seutuhnya yang disebutkan di dalam pasal 4 bisa dimaknai dengan manusia yang cerdas secara komprehensif.
Pendidikanmeningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat. 4. Pendidkan berlangsung seumur hidup. 5. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya. Pada dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses sekaligus sebagai tujuan.
Pendidikanmerupakan upaya untuk membantu jiwa anak-anak didik baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju kearah peradaban manusiawi dan lebih baik. Sebagai contoh dapat dikemukakan ;
pendidikanadalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.berkaitan dengan hal
0mJQUc. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama dari sudut pandang masyarakat, dan kedua dari segi pandang individu. Dari segi pendangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi individu pendidikan berarti pegembangan potensi-petensi yang terdalam. Pandangan lainnya adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris kebudayaan dan pengembang potensi-potensi. Pada pengembangannya pendidikan dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian. Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan berbagai keracunan dari pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung kontiniu/berkesinambungan, berdasarkan hal ini, maka tugas dan fungsi yang diemban oleh pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh berkembang secara dinamis, mulai dari kandungan sampai hayatnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa hakekat dari pendidikan Islam? 2. Apa fungsi pendidikan Islam? 3. Apa tujuan pendidikan Islam? BAB II PEMBAHASAN A. Hakekat Pendidikan Islam Kalau istilah pendidikan diartikan sebagai “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”, maka pendidikan itu pada hakekatnya adalah proses pembimbingan, pembelajaran atau pelatihan terhadap anak, generasi muda, manusia agar nantinya bisa berkehidupan dan melaksanakan peranan serta tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara.[1]Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[2] Pendidikan mempunyai arti yang sangat luas, yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta ketrampilan kepada generasi selanjutnya, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik jasmani maupun rohani.[3] Banyak ahli membahas pengertian pendidikan, tetapi dalam pembahasannya mengalami kesulitan, karena antara satu pengertian dengan pengertian yang lain sering terjadi perbedaan. Menurut Marimba, ia merumuskan pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[4] Pengertian tersebut sangat sederhana meskipun secara substansi telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan, dari pengertian itu pula pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik. Dari pengertian-pengertian pendidikan yang diungkapkan oleh para ahli di atas, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama pengertian secara sempit yang mengkhususkan pendidikan hanya untuk anak dan hanya dilakukan oleh lembaga atau instansi khusus dalam kerangka mengantarkan kepada kedewasaan, dan yang kedua pengertian secara luas, yang, mana pendidikan berlaku untuk semua orang dan dapat dilakukan oleh semua orang bahkan lingkungan. Tetapi dari perbedaan tersebut ada kesamaan tujuan yaitu untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi. Untuk memahami apa itu pendidikan Islam maka perlu kita ketahui juga mengenai Islam. Kata Islam menurut pandangan umum yang berlaku, biasanya mempunyai konotasi dengan dan diartikan sebagai agama Allah atau agama yang berasal dari Allah. Agama artinya adalah jalan, agama Allah berarti agama atau ajaran yang bersumber dari dimaksud adalah agama atau jalan hidup yang ditetapkan oleh Allah bagi manusia, untuk menuju dan kembali kepadaNya. Jadi agama Islam adalah jalan hidup yang telah ditetapkan Allah yang harus dilalui manusia, untuk kembali kepada Allah. Sedangkan secara etimologis, kata Islam tersebut memiliki banyak pengertian antara lain 1 berasal dari kata kerja aslama mengandung pengertian “menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat patuh dan tunduk, 2 berasal dari kata salima yang pengertian dasarnya “selamat, sejahtera, sentosa, bersih, dan bebas dari cacat dan cela, 3 juga berasal dari kata dasar salam yang berarti “damai, aman dan tentram.”[5] Walaupun kata Islam mengandung banyak arti, tetapi pada hakekatnya pengetian-pengertian dasar itu mengarah pada terwujudnya satu system kehidupan yang ideal bagi umat muslim.[6] Dalam konteks Islam, istilah pendidikan mengacu kepada makna dan asal kata yang membentuk kata pendidikan itu sendiri dalam hubungannya dengan ajaran Islam. Untuk memahami hakekat pendidikan Islam kita dapat mengkajinya dari istilah-istilah yang umum digunakan oleh para tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu, al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Setiap istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya. Walaupun dalam hal tertentu istilah-istilah tersebut juga mempunyai kesamaan makna. Hal tersebut sesuai dengan yang dihasilkan dalam konferensi Dunia tentang Pendidikan IslamWorld Conference in Islamic Education yang diadakan di Mekkah tahun 1977 memberikan rekomendasi tentang pengertian pendidikan menurut ajaran Islam sebagai berikut “the meaning of education in its totality in the context of Islam is inherent in the connotations of the terms tarbiyah, taklim, and ta’dib taken together. What each of these terms conveys concerning man and his society and environment in relation on God is related to the other, and together they represent the scope of education in Islam, both formal and non formal.”[7] Formulasi hakekat pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang tertuang dalam Al-qur’an dan sunnah, karena kedua sumber ini merupakan pedoman otentik dalam penggalian khazanah keilmuan apa pun. Dengan berpijak pada kedua sumber ini, diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang hakekat pendidikan Islam. Dalam al-qur’an memang tidak ditemukan secara khusus istilah al-tarbiyah, tetapi ada istilah yang senada dengan al-tarbiyah, yaitu ar-rabb, rabbayani, ribbiyun, rabbani. Selain itu, dalam sebuah hadits digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda. Merujuk kamus bahasa arab, akan ditemukan tiga akar kata untuk istilah tarbiyah. Pertama, raba yarbu yang artinya bertambah dan berkembang, kedua, rabiya yarba yang artinya tumbuh dan berkembang, ketiga, rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Sebagaimana yang ditulis Abdu Rahman bahwa kata tarbiyah memiliki tiga akar kata, إذ رجعنا إلى معاجم اللغة العربية التربية أصولاً لغوية ثلاثة الأصل الأول ربا يربو بمعنى زاد ونما, وفي هذا المعنى نزل قوله تعالى !$tBur OçF÷s?uä `ÏiB $\/Íh uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$ Ÿxsù qç/ötƒ y‰YÏã !$ الروم39. الأصول الثاني ربيَ يربى على وزن خفي يخفى, ومعناها نشأ وترعرع. وعليه قول ابن الأعرابي فمن يكُ سائلا عنى فإني بمكة منزلي وبها ربيتُ الأصل الثالث ربَّ يرب مدّ يمدّ بمعنى أصلحه, وتولى أموره, وساسه وقام عليه ورعاه, من هذا المعنى قول حسان بن ثابت كما أورده ابن منظور في لسان العرب ولأنت أحسن إذ برزت لنا يوم الخروج بساحة القصر. من درة بيضاء صافية مما تربّب حائر البحر وقال يعنى الدرة التي يربيها في الصدف, وبين بأن معنى تربب حائر البحر أي مما ترببة أي رباه مجتمع الماء في البحر. قال ورببت الأمر أربّه ربّاً ورباباً أصلحته ومتّنته. وقد اشتق بعض الباحثين من هذه الأصول اللغوية تعريفاً للتربية,قال الإمام البيضاويالمتوفى 685 هفي تفسيره أنوار التنزيل وأسرار التأويل الرب في الأصل بمعنى التربية وهي تبليغ الشيء إلى كماله شيئاً فشيئاً, ثمّ وصف به تعالى للمبالغة. وفى كتاب مفردات الراغب الأصفهانى المتوفى 502 ه الرب في الأصل التربية وهو إنشاء الشيء حالاً فحالاً إلى حد التمام. وقد استنبط الأستاذ عبد الرحمن الباني من هذه الأصول اللغوية أن التربية تتكون من عناصر أولها المحافظة على فطرة الناشئ ورعايتها. ثانيها تنمية مواهبه واستعداداته كلها, وهي كثيرة متنوعة. ثالثها توجيه هذه الفطرة وهذه المواهب كلها نحو صلاحها و كمالها اللائق بها. رابعها التدريج في هذه العملية, وهو ما يشير إليه البيضاوي بقوله.......شيئاً فشيئا والراغب بقولهحالاً فحالاً...... ثم يستخلص من هذا نتائج أساسية في فهم التربية. أولاها أن التربية عملية هادفة, لها أغراضها وأهدافها وغايتها. النتيجة الثانية أن المربي الحق على الإطلاق هو الله الخالق خالق الفطرة وواهب المواهب, وهو الذي سنّ سنناً لنموها وتفاعليها, كما أنه شرع شرعاً لتحقيق كمالها وصلاحها وسعادتها. النتيجة الثالثة أن التربية تقتضي خططاً متدرجة تسير فيها الأعمال التربوية و التعليمية وفق ترتيب منظم صاعد, ينتقل مع الناشئ من طور إلى طور ومن مرحلة إلى مرحلة. الرابعة أن عمل المربي وتابعّ لخلق الله وإيجاده, كما أنه تابع لشرع الله ودينه. وهذا التحليل لمعنى التربية ونتائجها يؤدّي بنا إلى معنى الشرع و الدين. لأن التربية تستمد جذورها منه, فطبيعة النفس الإنسانية طبيعة متدينة و الإنسان في الحقيقة حيوان متديّن كما سنوضح ذلك عند بحث خصائص التربية الإسلامية.[8] Apabila al-tarbiyah diidentikkan dengan ar-rabb, para ahli memberikan pengertian yang beragam. Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi memberikan arti ar-rabb dengan Pemilik, Tuan, Yang Maha Memperbaiki, yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambahkan dan Yang Maha Menunaikan. Pengertian ini merupakan interpretasi dari kata ar-rabb dalam surah Al-fatihah dan yang merupakan nama dari nama-nama Allah dalam Asmaul Husna. Selanjutnya Fahrurrazi berpendapat bahwa ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-tarbiyah yang mempunyai makna al-tanmiyah pertumbuhan dan perkembangan. Menurutnya, kata rabbayani tidak hanya mencakup pengajaran yang bersifat ucapan, tetapi juga meliputi pengajaran sikap dan tingkah laku. Sementara Sayyid Quttub menafsirkan kata rabbayani sebagai pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Apabila istilah al-tarbiyah diidentikkan dengan bentuk madi-nya rabbayani sebagaimana yang tertera dalam ZŽÉó¹’ÎT$u‹/u$ ayat 24 dan bentuk mudari’-nya nurabbi dalam ayat 18óOs9r&y7În/tçR$uZŠÏùY‰‹Ï9ur, al-tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, memproduksi, dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks kalimat dalam surah al-Isra’ lebih luas, mencakup aspek jasmani-ruhani, sedang dalam QS al-Syu’ara hanya mencakup aspek jasmani. Selanjutnya, istilah rabbaniyyin disebutkan dalam al-qur’an dalam QS. Ali Imran 79, "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”[9] Dengan mencermati ayat di atas, bisa dipahami bahwa arti al-tarbiyah sebagai padanan dari rabbani adalah proses transformasi ilmu pengetahuan. Proses rabbani bermula dari proses pengenalan, hapalan, dan ingatan yang belum menjangkau proses pemahaman dan penalaran.[10] Ahli pendidikan Islam, Al-Baidhawi, menyatakan bahwa tarbiyah bermakna”menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan” secara bertahap. Sementara Naquib al-Attas menjelaskan, bahwa tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara, menjaga, dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang, dan tumbuhan. Kosakata Rabb dijadikan salah satu rujukan dalam menyusun konsep pendidikan Islam oleh para ahli didik. Selain konsep tarbiyah, sering pula digunakan konsep ta’lim untuk pendidikan Islam. Secara terminology, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini, ta’lim cenderung dipahami sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas anak didik. Kecenderungan semacam ini, pada batas-batas tertentu telah menimbulkan keberatan pakar pendidikan untuk memasukkan ta’lim ke dalam pengertian pendidikan. Menurut mereka, ta’lim hanya merupakan salah satu sisi pendidikan.[11] Kemudian landasan pemikiran berikutnya dalam pendidikan Islam dapat dirujuk dari kata ta’dib. Menurut pemahaman Naquib al-Attas, ta’dib mengundang pengertian mendidik dan juga sudah merangkum pengertian tarbiyah dan ta’lim, yaitu pendidikan bagi manusia. Di samping itu, pengertian tersebut mempunyai hubungan erat dengan kondisi pendidikan ilmu dalam Islam. Sesungguhnya, bila dicermati pemaknaan dari masing-masing istilah, baik al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib, semuanya merujuk kepada yang ditenggarai sebagai kata bentukan dari kata rabb atau rabba mengacu kepada Allah sebagai Rabb al-alamin. Sementara ta’lim yang berasal dari kata allama, juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Alim. Selanjutnya, kata ta’dib seperti termuat pada sabda Rasulullah SAW “Adabbani Rabbi faahsana ta’dibi”, menjelaskan bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah. Rasul sendiri menegaskan bahwa beliau dididik oleh Allah sehingga karenanya Rasulullah SAW, merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan.[12] Berdasarkan atas pengertian al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib di atas, para ahli pendidikan Islam juga mencoba memformulasikan hakekat pendidikan Islam, dan seperti pemaknaan istilah pendidikan, formulasi hakekat pendidikan Islam ini juga berbeda satu sama lain. Inilah beberapa di antara formulasi tersebut[13] - Muhammad Fadlil al-Jamaly memberikan arti pendidikan Islam dengan upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. - Omar Mohammad al-Toumy al-Syaebany mendifinisikan pendidikan islam sebagai usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau masyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandasakan nilai Islam. - Muhammad Munir Mursyi mengatakan bahwa pendidikan islam adalah pendidikan fitrah manusia. Disebabkan Islam adalah fitrah maka segala perintah, larangan, dan kepatuhannya dapat mengantarkan mengetahui fitrah ini. Sedangkan dalam kitab usulu at-tarbiyah al-islamiyah wa asalibiha disebutkan bahwa pendidikan Islam adalah التربية الإسلامية هى التنظيم النفسي و الاجتماعي الذى يؤدي إلى اعتناق الإسلام و تطبيقه كلياً في حياة الفرد و الجماعة فالتربية الاسلامية ضرورة حتمية لتحقيق الاسلام كما أراده الله أن يتحقق, وهي بهذا المعنى تهيئة النفس الانسانية لتحمّل هذه الأمانة, وهذا يعني بالضرورة أن تكون مصادر الإسلام هي نفسها مصادر التربية الاسلامية, وأهمها القرآن والسنّة .[14] Maka, dapat ditarik kesimpulan pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia, baik individu, maupun social untuk mengarahkan potensi, baik potensi dasar, maupun ajar yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spiritual berlandasan nilai Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. B. Fungsi Pendidikan Islam Pendidikan agama Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu aspek pertama yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian anak, dan kedua, yang ditujukan kepada pikiran yakni pengajaran agama Islam itu sendiri. Aspek pertama dari pendidikan Islam adalah yang ditujukan pada jiwa atau pembentukan kepribadian. Artinya bahwa melalui pendidikan agama Islam ini anak didik diberikan keyakinan tentang adanya Allah swt. Aspek kedua dari pendidikan Agama Islam adalah yang ditujukan kepada aspek pikiran intelektualitas, yaitu pengajaran Agama Islam itu sendiri. Artinya, bahwa kepercayaan kepada Allah swt, beserta seluruh ciptaan-Nya tidak akan sempurna manakala isi, makna yang dikandung oleh setiap firman-Nya ajaran-ajaran-Nya tidak dimengerti dan dipahami secara benar. Di sini anak didik tidak hanya sekedar diinformasikan tentang perintah dan larangan, akan tetapi justru pada pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana beserta argumentasinya yang dapat diyakini dan diterima oleh akal. Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi pendidikan islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan tetapi hendaklah mengacu kepada konseptualisasi manusia paripuma insan kamil yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan islam. Fungsi pendidikan Agama Islam di sini dapat menjadi inspirasi dan pemberi kekuatan mental yang akan menjadi bentuk moral yang mengawasi segala tingkah laku dan petunjuk jalan hidupnya serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Agama Islam adalah 1. Memperkenalkan dan mendidik anak didik agar meyakini ke-Esaan Allah swt, pencipta semesta alam beserta seluruh isinya; biasanya dimulai dengan menuntunnya mengucapkan la ilaha illallah. 2. Memperkenalkan kepada anak didik apa dan mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang hukum halal dan haram. 3. Menyuruh anak agar sejak dini dapat melaksanakan ibadah, baik ibadah yang menyangkut hablumminallah maupun ibadah yang menyangkut hablumminannas. 4. Mendidik anak didik agar mencintai Rasulullah saw, mencintai ahlu baitnya dan cinta membaca al-Qur’an. 5. Mendidik anak didik agar taat dan hormat kepada orang tua dan serta tidak merusak lingkungannya. Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk Pertama, Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional; Kedua, Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan islam secara mikro adalah proses penanaman nilai nilai ilahiah pada diri anak didik, sehingga mereka mampu mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan prinsip-prinsip religius. Secara makro pendidikan islam berfungsi sebagai sarana pewarisan budaya dan identitas suatu komunitas yang didalamnya manusia melakukan interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Secara umum fungsi pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.[15] Bila dilihat dati operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dua bentuk 1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional. 2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Fungsi pendidikan Islam, dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 151 !$yJx. $uZù=y™ör& öNà6‹Ïù Zwqß™u öNà6ZÏiB qè=÷Gtƒ öNä3ø‹n=tæ $oYÏG»tƒuä ãNà6ßJÏk=yèãƒur =»tGÅ3ø9$ spyJò6Ïtø$ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 qçRqä3s? tbqßJn=÷ès? ÇÊÎÊÈ Artinya “Sebagaimana kami telah mengutus kepada kamu sekalian seorang rasul diantara kau yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu, menyucikan mu, mengajarkan al-Kitab, dan al-hikmah, dan mengajarkan kepadamu yang belum kamu ketahui"QS. Al-Baqarah 151. Dari ayat di atas ada lima 5 fungsi pendidikan yang dibawa Nabi Muhammad, yang dijelaskan dalam tafsir al-Manar karangan Muhammad Abduh[16] a. Membacakan ayat-ayat kami, ayat-ayat Allah ialah membacakan ayat-ayat dengan tidak tertulis dalam al-Quran al-Kauniyah, ayat-ayat tersebut tidak lain adalah alam semesta. Dan isinya termasuk diri manusia sendiri sebagai mikro kosmos. Dengan kemampuan membaca ayat-ayat Allah wawasan seseorang semakin luas dan mendalam, sehingga sampai pada kesadaran diri terhadap wujud zat Yang Maha Pencipta yaitu Allah. b. Menyucikan diri merupakan efek langsung dari pembacaan ayat-ayat Allah setelah mengkaji gejala-gejalanya serta menangkap hukum-hukumnya. Yang dimaksud dengan penyucian diri menjauhkan diri dari syirik menyekutukan Allah dan memelihara akhlaq al-karimah. Dengan sikap dan perilaku demikian fitrah kemanusiaan manusia akan terpelihara. c. Yang dimaksud mengajarkan al-kitab ialah al-Quran al-karim yang secara eksplisit berisi tuntunan hidup. Bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. d. Hikmah, menurut Abduh adalah hadits, akan tetapi kata al-hikmah diartikan lebih luas yaitu kebijaksanaan, maka yang dimaksud ialah kebijaksanaan hidup berdasarkan nilai-nilai yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Walaupun manusia sudah memiliki kesadaran akan perlunya nilai-nilai hidup, namun tanpa pedoman yang mutlak dari Allah, nilai-nilai tersebut akan nisbi. Oleh karena itu, menurut Islam nilai-nilai kemanusiaan harus disadarkan pada nilai-nilai Ilahi al-Quran dan sunnah Rasulullah. e. Mengajarkan ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap, itulah sebabnya Nabi Muhammad mengajarkan pada umatnya ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh umat sebelumnya. Karena tugas utamanya adalah membangun akhlak al-Karimah.[17] Dengan mengembalikan kajian antropologi dan sosiologi ke dalam perspektif al-Quran dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenal jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga tumbuh kemampuan membaca analisis fenomena alam dan kehidupan serta memahami hukum-hukum yang terkandung didalamnya. Dengan himbauan ini akan menumbuhkan kreativitas sebagai implementasi identifikasi diri pada Tuhan "pencipta". Membebaskan manusia dari segala analisis yang dapat merendahkan martabat manusia fitrah manusia, baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Mengembalikan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun sosial.[18] C. Tujuan Pendidikan Islam Setiap langkah manusia tentunya disertai dengan tujuan, bagitu pula halnya dengan dunia pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat penting dalam menentukan arah yang hendak dicapai atau ditempuh dalam masyarakat tertentu. Sebab tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, proses pendidikan menjadi acak-acakan, tanpa arah atau salah langkah. Berkaitan dengan hal tersebut maka pendidikan Islam harus menyadari betul apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam arti islam adalah sesuatu yang khusus hanya untuk manusia”, demikian menurut Syed Muhammad al-Naquib al-Attas. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam secara filosofis seyogianya memiliki konsepsi yang jelas dan tegas mengenai manusia. Kalau pendidikan dalam islam hanya untuk manusia, manusia yang bagaimana yang dikehendaki pendidikan islam? Marimba menyebutkan bahwa manusia yang dikehendaki oleh pendidikan islam adalah manusia yang berkepribadian muslim. Dilihat dari segi kebahasaan kata tujuan berakar dari kata dasar tuju yang berarti arah atau jurusan. Maka, tujuan berarti maksud atau sasaran atau dapat juga berarti sesuatu yang hendak dicapai. Sementara pengertian tujuan secara istilah adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha.[19] Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh Al-Syaibany, menurut beliau yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup, atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu kreativitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[20] Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan tujuan pendidikan ialah hasil akhir yang diinginkan atau yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Abuddin Nata 1997 berpendapat, sebagai sesuatu kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya perumusan dan penetapan tujuan pendidikan islam harus memenuhi kriteria berikut a. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai kehendak Tuhan. b. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi dilakukan dalam rangka pengabdian/beribadah kepada Allah. c. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia sehingga tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya. d. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmani guna pemilikan pengetahuan, akhlak dan keretampilan yang dapat digunakan mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya. e. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[21] Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Ada empat fungsi tujuan pendidikan menurut rumusan Ahmad D. Marimba, yaitu 1. Tujuan berfungsi mengakhiri usaha, 2. Tujuan berfungsi mengarahkan usaha, 3. Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama, 4. Tujuan memberi nilai pada sifat pada usaha itu.[22] Zuhairini, dkk 1995 berpendapat bahwa tujuan adalah dunia cinta yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan. Hasan Langulung 1989 memberi pentahapan tujuan pendidikan islam menjadi tiga tingkat 1. Tujuan tertinggi, tujuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan mengalami perubahan baik dalam dimensi ruang waktu yang berbeda-beda. 2. Tujuan umum, lebih menekankan pada pendekatan empirik. 3. Tujuan khusus, tujuan ini adalah perubahan yang diharapkan dari tujuan-tujuan umum secara lebih spesifik lagi. Dalam konteks tujuan pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung, bahwa tujuan pendidikan islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, antara lain 1. Fungsi spiritual, yaitu berkaitan dengan akidah dan iman. 2. Fungsi psikologis, yaitu berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna. 3. Fungsi social, yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, yang mana masing-masing mempunyai hak untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[23] Al-Syaibani memberikan rumusan tentang prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam konseptualisasi tujuan Islam. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah menyeluruh, keseimbangan, kejelasan, tidak ada pertentangan, relistis, dan dapat dilaksanakan, perubahan pada arah yang dapat dikehendaki, menjaga perbedaan-perbedaan perseorangan dan dinamis serta menerima perubahan. Dari prinsip-prinsip tersebut maka dapat dirumuskan tujuan pendidikan yang lebih fungsional sesuai dengan kondisi social dan non social yang melingkupi proses pendidikan.[24] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani 1979 juga merumuskan tujuan pendidikan islam sejalan dengan misi islam itu sendiri, yaitu “mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlakul karimah”. Sementara Jalaluddin dan Usman Said menyimpulkan tujuan pendidikan islam telah terangkum dalam kandungan surat al-Baqarah 2 ayat 201 رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ٢٠١ "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat ". Menurut Mohammad Athiyah al-Abrosyi 1980 tujuan pendidikan islam adalah “Membantu pembentukan akhlak yang mulia, mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat, menumbuhkan ruh ilmiah scientific spirit pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui curiosity dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekadar sebagai ulmu, menyiapkan pelajaran agar dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki, hidup mulia dengan tetap memelihara kerihanian dan keagamaan, serta mempersiapkan kemampuan mencari dan mendayagunaan rezeki.[25] Untuk mengetahui tujuan pendidikan harus berdasar atas tinjauan filosofis. Menurut Imam Barnadib tujuan pendidikan secara umum dijelaskan seperti berikut[26] 1. Jika pendidikan bersifat progresif, tujuannya harus diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman. Dalam hal ini pendidikan bukan sekedar menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, melainkan pula melatih kemampuan berfikir dengan memberikan stimulun, sehingga mampu berbuat sesuai dengan intelegensi dan tuntutan lingkungan. Aliran ini dikenal dengan aliran progresivisme. 2. Jika yang dikehendaki pendidikan adalah nilai yang tinggi, pendidikan pembawa nilai yang ada di luar jiwa anak didik, sehingga ia perlu dilatih agar mempunyai kemampuan yang tinggi. Aliran ini dikenal dengan esensialisme. 3. Jika tujuan pendidikan yang dikehendaki agar kembali kepada konsep jiwa sebagai tuntutan manusia, prinsip utamanya ia sebagai dasar pegangan intelektual manusia yang menjadi sarana untuk menemukan evidensi sendiri. aliran ini dikenal dengan perenialisme. 4. Menghendaki agar anak didik dibangkitkan kemampuannya secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan masyarakat karena adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan penyesuaian ini, anak didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas yang dikenal dengan aliran rekonstruksionisme. Tujuan tersebut di atas berangkat dan terkait dengan definisi pendidikan sesuai dengan alirannya masing-masing. Demikian juga dengan tujuan pendidikan Islam. Jika berangkat dari definisinya, tujuannya adalah terbentuknya kepribadian yang utama berdasarkan pada nilai-nilai dan ukuran ajaran Islam dan dinilai bahwa setiap upaya yang menuju kepada proses pencarian ilmu dikategorikan sebagai upaya perjuangan di jalan Allah. Charles Hummel mengemukakan, bahwa dalam menentukan tujuan pendidikan ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan. Pertama autonomy, yaitu memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu meupun kelompok untuk hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. Kedua, equity, berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untu dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikannya pendidikan sebagai bekal hidup. Ketiga survival, yaitu dengan pendidikan akan menjamin pewarisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.[27] Proses pendidikan terkait dengan kebutuhan dan tabiat menusia tidak terlepas dari tiga unsur, yaitu jasad, ruh, dan akal. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam secara umum harus dibangun berdasarkan tiga komponen tersebut, yang masing-masing harus dijaga keseimbangannya. Maka dari sini, tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga; 1. Pendidikan jasmani Keberadaan manusia telah diprediksikan sebagai khalifah yang akan berinteraksi dengan lingkungannya, maka keunggulan fisik memberikan indikasi kualifikasi yang harus diperhitungkan, yaitu kegagahan dan keperkasaan seorang raja. Hal ini sebagaiman yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, Nabi mereka berkata "Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. QS. Al-Baqarah 247. Fisik memang buka tujuan utama. Akan tetapi ia sangat berpengaruh. Ia berpengaruh dan memegang peran penting, sampai-sampai kecintaan Allah terhadap orang mukmin lebih diprioritaskan untuk orang yang mempunyai keimanan yang kuat dan fisik yang kuat dibandingkan dengan orang yang mempunyai keimanan yang kuat, tetapi fisiknya lemah. Rasulullah bersabda, “orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.”. Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menumbuhkan, menguatkan, dan memelihara jasmani dengan baik. Dengan demikian, jasmani mampu melaksanakan berbagai kegiatan dan beban tanggung-jawab yang dihadapinya dalam kehidupan individu dan social. 2. Pendidikan akal Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berfikir benar. Pendidikan intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realitas secara tepat dan benar. Hal ini akan menghasilkan keputusan atas segala sesuatu yang dipikirkan menjadi tepat dan benar. Beberapa cara untuk mencapai keberhasilan pendidikan intelektual, yaitu melatih perasaan peserta didik untuk meningkatkan kecermatannya, melatih peserta didik untuk mengamati sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat, melatih daya intuisi sebagai sarana penting bagi daya cipta, dan membiasakan anak didik berfikir sistematis dan menanamkan kecintaan berfikir sistematis. Dengan demikian tujuan pendidikan akal terikat perhatiannya dengan perkembangan intelegensi yang mengarahkan manusia sebagai individu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya yang mampu memberikan pencerahan diri. 3. Pendidikan akhlak Akhlak mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam, untuk mencapai keridhaan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, dijelaskan tentang sendi-sendi agama yang bertumpu pada tiga komponen, yaitu iman, Islam, ihsan. Ketiganya merupakan system yang dalam praktik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, tetapi merupakan totalitas untuk mewujudkan akhlaq al-karimah dalam setiap perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupan. Pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan utama yang harus disuritauladankan oleh guru pada anak didik. Tujuan utama dari pendidikan islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, jiwa bersih, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui kewajiban dan melaksanakannya, menghormati hak-hak manusia, dapat membedakan buruk dan baik, memilih fadhilah karena cinta fadhilah, menghindari perbuatan tercela dan mengingat Tuhan di setiap melakukan pekerjaan. Pendidikan akhlak bertujuan untuk membina kualitas manusia prima dengan ciri-ciri, antara lain a. beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, b. berakal sehat atau mempunyai kemampuan akademik, yaitu mampu mengembangkan kecerdasannya dengan mencintai ilmu terutama yang sesuai dengan bakatnya, c. mempunyai kematangan kepribadian, berbudi luhur, jujur, amanah, barani, qanaah, sabar, bertanggung jawab dan percaya diri, d. mempunyai ketrampilan belajar, bekerja dan beramal saleh, disiplin kreatif dan inovatif.[28] Sementara itu, Mahmud al-Sayyid Sultan dalam Mafahim Tarbawiyah fi al-Islam menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam islam haruslah memenuhi beberapa karakteristik, seperti kejelasan, keumuman, universal, integral, rasional, aktual, ideal, dan mencakup jangkauan untuk masa yang panjang. Dengan karakteristik ini, tujuan pendidikan islam harus mencakup aspek kognitif fikriyah ma’rafiyyah, afektif khuluqiyyah, psikomotor jihadiyyah, spiritual ruhiyyah, dan sosial kemasyarakatan ijtima’iyyah. Laporan hasil World Conference on Muslim Education yang pertama di Makkah 31 Maret-8 April 1977 menyebutkan “Education should aim at balanced growth of the total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feelings and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects; spiritual, intellectual, and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the attainment of perpection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large.” Dari kutipan di atas tampak bahwa pendidikan islam memiliki dua tujuan, yaitu tujuan antara dan tujuan akhir. Kedua tujuan ini disebut oleh Abdul Rahman Salih Abdullah dengan istilah objectives dan aims atau dalam terma Arabnya ahdaf dan ghayah.[29] Sedangkan menurut Muhammad bin Salim bin Ali Jabir bahwa tujuan pendidikan Islam itu ada empat tingkat والأهداف التربوية الإسلامية تدور حول أربعة مستويات الأول الأهداف التي تدور على مستوى العبودية لله - سبحانه وتعالى - أو إخلاص العبودية لله. الثاني الأهداف التي تدور على مستوى الفرد؛ لإنشاء شخصية إسلامية ذات مثل أعلى يتصل بالله تعالى. الثالث الأهداف التي تدور حول بناء المجتمع الإسلامي، أو بناء الأمة المؤمنة. الرابع الأهداف التي تدور حول تحقيق المنافع الدينية والدنيوية.[30] Sedangkan menurut Athbiya’ al-Abrasy tujuan pendidikan Islam ada lima, yaitu 1. Membantu pembentukan akhlak yang mulia 2. Mempersiapkan untuk kehidupan dunia dan akhirat 3. Membentuk pribadi utuh, sehat jasmani dan rohani. 4. Menumbuhkan ruh ilmiah, sehingga memungkinkan murid mengkaji ilmu semata untuk ilmu itu sendiri. 5. Menyiapkan murid agar mempunyai profesi tertentu sehingga dapat melaksanakan tugas dunia dengan baik atau singkatnya persiapan untuk mencari rizki[31] Pendapat lain mengatakan bahwa tujuan umum dari pendidikan Islam adalah الأهداف الروحي و الخلقي تهيئة الفرص المناسبة للطفل في هذه المرحلة لينمو روحيا وخلقيا متفهما مبادئ دينه الحنيف حتى تتكون لدية العقائد و الاتجاهات الدينية النمو العقلي تزويد الطفل بأنواع المعرفة الضرورية وبطريقة مبسطة حتى ينتهي منها وهو على معرفة بالقراءة و الكتابة و التعبير متمكنا من العمليات الأساسية فلي الحساب قادرا على استخدامها في حياته العادية النمو الجسمي أن يلتزم الطفل بالقواعد الصحية العامة و يتبعا عن اقتناع بأهميتها لسلامة جسمه وبذلك نصل إلى غرس العادات الصحية الأساسية. النمو النفسي أن ينموا الطفل على درجة طيبة من الصحة النفسية الخالية من المرض النفسي متمشيا مع القدرة على الإحساس و الجمال و التذوق الفني. النمو الاجتماعي مساعدة الطفل على النمو في مجتمع ارتضى النظام الديمقراطي وغرس عادات السلوك الاجتماعي عن طريق المواد الأساسية و النشاطات المختلفة . القومي تربية الطفل على الاعتزاز بوطنه وأمته العربية وذلك عن طريق تعريفة للمظاهر الطبيعة و الاجتماعية لوطنه الكويت و تاريخ الأمة العربية الإسلامية.[32] Dari berbagai tujuan pendidikan Islam di atas menggambarkan berapa luasnya ruang lingkup dan sasaran yang harus dicapai pendidikan islam. Namun demikian, patokan yang kita pegangi bahwa pada hakekatnya tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan kehidupan umat manusia khususnya umat Islam, yang pada intinya untuk memperoleh kesejahteraan hidup harus di dunia dan akhirat. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pewaris para nabi waratsatul Anbiya’, para pendidik hendaklah bertolak pada amar ma’ruf dan nahi munkar dalam artian menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat penyebaran misi iman, Islam dan ihsan, dan kekuatan rohani pokok yang dikembangkan oleh pendidikan adalah individualitas, sosialitas dan moralitas nilai-nilai agama dan moral. 2. Fungsi Pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. 3. Tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa yaitu sosok manusia yang memahami peran dan fungsinya dalam kehidupan, serta manyandarkan semuanya pada ajaran dan hukum Allah SWT dan Rasulullah SAW. B. Saran Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari tentunya makalah ini tak lepas dari kesalahan-kesalahan, baik itu kesalah tulisan atau kesalahan materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari segenap pembaca dan dosen pengampu senantiasa kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar Abduh, M. Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, As Said, Muhammad. 2011. Filsafat Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta Mitra Pustaka Daradjat, Zakiah. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. Haitami, Moh. Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media Hummel, Charles. 1977. Education Today for the World of Tomorrow, paris unisco Langgulung. 1998. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna Muchsin, Bashori, dkk. 2010. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif Salih Abdullah, Abdul Rahman. Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta Ar-Ruzz Media. Syar’I, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. Tim dosen Sunan Ampel-Malang. 1996. Dasar-dasar Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama Usman. 2010. Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. Teras Yogyakarta Teras. عبد الرحمن أصول التربية الإسلامية. دمشق دار الفكر. سعيد إسماعيل أصول التربية الإسلامية. القاهرة دار السلام. عبد الوهاب عبد السلام طويلة. 2003 .التربية الإسلامية وفن التدريس. القاهرة دار السلام. ماجد زكي الجلاد. 2004 . تدريس التربية الإسلامية. عمان دار المسيرة. [1] Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. 2004 [2]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 28 [3] Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna, 1998 [4] Ahmad Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif, 1989 [5]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 7 [7]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 13 [8] عبد تارحمن النحلوى. أصول التربية الإسلامية . دمشق دار الفكر, 1996 [10]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 31 [11]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 15 [12]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 16 [13]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 32 [14] Abdurahman alnahlawi. Usulu Tarbiyah Al-Islamiyah wa Asalibiha. Bairut Darul Fikr. 21 [15]. Dr. Usman, Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. 2010. Teras Yogyakarta, hlm. 115. [16]. M. Abduh, Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, hlm. 29 [18]. Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 36-37 [19]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 113 [20]Ibid, Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 114 [21]. H. Ahmad Syar’i Filsafat Pendidikan Islam. 2005. Firdaus Jakarta, hlm. 24-25 [22]Ibid. Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 115 [23] Hasan Langgulung. Beberapa pemikiran tentang Pendidikan Al-Ma’arif. 1980 [24] Ahmad Syar’i. filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. 2005. Hlm 24 [25]. H. Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, 2005, Firdaus Jakarta, hlm. 28-29 [26]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 116 [27]. Charles Hummel, Education Today for the World of Tomorrow, 1977, paris unisco. Hlm. 39 [28]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 117-120 [29]. Abdul Rahman Salih Abdullah, Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, hlm. 114 [31]Bashori Muchsin, dkk. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. 2010. Hlm 11
MAKALAHEVALUASI PENDIDIKANFUNGSI DAN TUJUAN PENILAIANDosen Pengampu Afdhal Ilahi, Oleh Kelompok 3Mira yanti Siregar 20140005Noni yusnaida harahap 20140014PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASARFAKULTAS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN BAHASAINSTITUT PENDIDIKAN TAPANULI SELATAN2023KATA PENGANTARPuji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah”Evaluasi Pendidikan tentang Fungsi dan Tujuan Penilaian” tepat waktu.. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pendidikan yang diberikan oleh Dosen Bapak “Afdhal Ilahi mengucapkan terimakasih kepada Bapak Afdhal Ilahi Selaku dosen pengampu yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang study yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini , yang bersifat membangun,agar kami dapat menyusun makalah lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para Februari 2023 Pemakalah,DAFTAR ISIKATA PENGANTAR iDAFTAR ISI iiBAB I PENDAHULUAN 1Latar Belakang 1 Rumusan Masalah 2Tujuan 2BAB II PEMBAHASAN 3Pengertian Evaluasi 3Pengertian penilaian berbasis kelas 5Fungsi penilaian 6Tujuan Penilaian 7Kriteria penilaian 8 BAB III PENUTUP 10A. Kesimpulan 10B. Saran 10DAFTAR PUSTAKA 11BAB BELAKANG. Evaluasi bukan lagi merupakan hal yang asing dalam kehidupan masa sekarang, apalagi dalam dunia pendidikan. Istilah evaluasi mempunyai padanan kata dalam bahasa indonesia, yaitu penilaian. Salah satu cara untuk memperbaiki proses pendidikan yang paling efektif ialah dengan mengadakan evaluasi tes hasil belajar. Hasil tes itu diolah sedemikian rupa sehingga dari hasil pengolahan itu dapat diketahui komponen-komponen manakah dari proses belajar-mengajar itu yang masih lemah. Sekarang ini banyak orang yang melakukan kegiatan evaluasi, tetapi tidakmempunyai pemahaman terhadap istilah evaluasi tersebut. Hal ini tentunya akan menimbulkan masalah dalam proses pendidikan pada umumnya, dan proses pembelajaran pada khususnya. Karena aktivitas evaluasi tidak mempunyai syarat evaluasi sebagai suatu konsep pendidikan, dan banyak aktivitas evaluasi yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses belajar-mengajar di dalam kelas. Penilaian ini bersifat koreksi dari berbagai informasi yang valid, reliabel, dan bertujuan untuk meningkatkan penampilan dalam suatu proses. Penilaian sendiri biasanya digunakan di dalam proses belajarmengajar, sebagai usaha untuk melihat keberhasilan proses belajar siswa atau cara mengajar seorang guru yang ditunjukkan dalam bentuk nilai. Penilaian juga digunakan sebagai standarisasi terhadap usaha dalam rangka perbaikan suatu tersebut dapat menjadi teknik penilaian tersendiri yang digunakan sebagai tolak ukur pencapaian hasil belajar peserta didik pada satuan / jenjang pendidikan tertentu. Tolak ukur pencapaian hasil belajar dalam penilaian pendidikan memiliki Standar yang dapat dicapai, manakala hal tersebut dapat mengikuti aturan baku tentang sistem penilaian pendidikan. Aturan baku tersebut telah diatur sedemikian rupa, dimana setiap penilaian pendidikan haruslah mencangkup beberapa ranah yang sesuai dengan kurikulum 2013 yaitu mengandung ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian pendidikan dapat diterapkan pada berbagai aspek keterampilan berbahasa, yaitu berbicara, membaca, menulis, dan keterampilan berbahasa tersebut yang memiliki tingkat kesulitan dalam pembelajaran yaitu keterampilan ini melibatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena menuntut siswa untuk mengeluarkan ide dan kreativitas 2 dalam bentuk adalah aktivitas aktif produktif untuk menghasilkan sebuah secara umum, menulis adalah aktivitas mengemukakan gagasan melalui media bahasa Nurgiyantoro, 2013425. MASALAHApa yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan ?Bagaimana ruang lingkup evaluasi pendidikan ?Apa saja fungsi dan tujuan penilaian ? PENULISAN Untuk mengetahui apa yang dimaksud evaluasi mengetahui ruang lingup evaluasi mengetahui fungsi dan tujuan penilaian .BAB II PEMBAHASANPENGERTIAN EVALUASI PENDIDIKANIstilah Evaluasi berasal dari bahasa inggris “evaluation” dan diambil dari kata “testum” berasal dari bahasa Perancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Evaluassi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan, pengumpulan, analisis, dan penyajian informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta penyusunan program adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu, untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, dilakukanlah pengukuran, dan wujud dari pengukurang itu adalah pengujian yang dikenal dengan istilah tes. Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai itu mengandung arti mengambil keputusan pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya. Jadi penilaian itu sifatnya adalah kualitatif, Mehren dan Lehmann 19785 menjelaskan Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untukmembuat alternatif-alternatif keputusan. Alkin 9198511 Evaluasi adalah suatu aktivitas sistematis untuk mengumpulkan,menganalisis dan melaporkan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan program atau proyek yang dievaluasi. Penilaian dan evaluasi adalah dua komponen penting dalam proses belajar-mengajar berdasarkan tujuan penilaian untuk menganalisis, dan untuk mengidentifikasi area untuk perbaikan sedangkan evaluasi untuk skor kegiatan pembelajaran, seorang guru harus menguasai beberapa pengetahuan terkait dengan penilaian pendidikan, diantaranya Mampu memilih prosedur-prosedur penilaian yang tepat untuk membuat keputusan mengembangkan prosedur penilaian yang tepat untuk membuat keputusan dalam melaksanakan, melakukan penskoran, serta menafsirkan hasil penilaian yang telah menggunakan hasil-hasil penilaian untuk membuat keputusan-keputusan di bidang mengembangkan prosedur penilaian yang valid dan menggunakan informasi penilaian, dan Mampu dalam mengkomunikasikan hasil -hasil penilaian .“Evaluation is a systematic process determining the extent to which instructional objectives are achieved by pupils”. Kalimat tersebut menjelaskan bahwa penilaian adalah suatu proses dalam mengumpulkan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut. Dalam proses mengumpulkan informasi, tentunya tidak semua informasi bisa digunakan untuk membuat sebuah keputusan. Informasi-informasi yang relevan dengan apa yang dinilai akan mempermudah dalam melakukan sebuah penilaian dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbanagan tertentu . Definisi dari penilaian juga disampaikan oleh Ralph Tyler yang mengungkapkan bahwa penilaian merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Menurut Griffin dan Nix, penilaian adalah suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan tentang karakteristik seseorang atau sesuatu. Haryati berpendapat lain, ia mengungkapkan bahwa penilaian assessment merupakan istilah yang mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi secara menyeluruh yang dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui kemampuan atau keberhasilan siswa dalam pembelajaran dengan menilai kinerja siswa baik kinerja secara individu maupun dalam kegiatan kelompok. Penilaian itu harus mendapatkan perhatian yang lebih dari seorang demikian, penilaian tersebut harus dilaksanakan dengan baik, karena penilaian merupakan komponen vital utama dari pengembangan diri yang sehat, baik bagi individu siswa maupun bagi organisasi/ Penilaian Berbasis KelasPenilain berbasis Kelas PKB merupakan suatu proses pengumpulan pelaporan, dan penggunanaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran dibawah kewenangan guru di kelas. BPK mengidentifikassi pencapaian kompetensi dan hassil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan demikian BPK tidak lain adalah sebuah paragdima, pendekatan, pola, dan sekaligus sebagai komponen utama dalam penyelenggaraan kurukulum berbassis kompetensi KBK. Ada empat komponen KBK yang satu sama lain saling terkait erat, yaitu Kurikulum dan hasil belajarPenilaian berbasis kelasKegiatan belajar mengajar, danPengelolaan kurikulum berbasis kelasPada pelaksanaan PBK, peran guru sangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. Teknis penilaian yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas dan rehabilitas, agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. PBK yang dilaksanakan oleh guru, harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya, dan bagi sisswa secara individu pada khususnya, agar perkembangan prestasi siswa dari waktu ke waktu dapat diamati Observable dan terukur Measurable.Fungsi PenilaianPenilaian berfungsi selektifDengan cara mengadakan penilaian, guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolahUntuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat memilih siswa yang harusnya mendapat sejauh mana seorang peserta didik telah menguasaisuatu hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami kemampuan dirinya, membuat keptusan tentang langkah berikutnya, baik untuk program pemilihan, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan sebagai bimbingan.Adapun fungsi penilainnya yaitu Penilaian berfungsi selektif yaitu , untuk memilih peserta tes yang dapat diterima untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tertentu atau seorang calon pegawai untuk bekerja di instansi berfungsi Diagnostik yaitu , untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang masih dialami oleh peserta didiknya, sehingga akan lebih mudah dicari cara-cara untuk berfungsi untuk Penempatan Placement Test yaitu, untuk mengelompokkan peserta tes sesuai dengan kemampuan awalnya, untuk selanjutnya dapat diberikan perlakuan-perlakuan yang sesuai dengan kemampuan dasar atau kemampuan awalnya tersebut, sehingga program pengajaran ataupun pelatihan yang akan diberikan akan lebih efektif. Penilaian berfungsi Pengukur Keberhasilan Belajar Achievement Test yaitu , Digunakan untuk mengukur keberhasilan atau tingkat pencapaian suatu program pengajaran/pelatihan oleh peserta didik dan disebut tes untuk penilaian pencapaian hasil belajar Achievement Test.Tujuan PenilaianSebagaimana evaluasi pendidikan pada umumnya, PBK juga bertujuan untuk memberikan suatu penghargaan atas pencapaian hasil belajar siswa dan sekaligus sebagi umpan balik untuk meneguhkan dan/atau melakukan perbaikan progran dan kegiatan pembelajaran. Jadi, PBK berusaha untuk memahami secara lebih konkrit atas pencapaian hasil belajar siswa dan sekaligus memahami seluruh kegiatan proses pembelajaran, pencapaian kurikulum, alat, bahan dan metodologi terperinci tujuan penilaian berbasis kelas pada intinya adalah untuk Memberikan informasi mengenai kemajuan hasil belajar siswa secara individual dalam mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kegiatan belajar yang informasi yang akurat guna lebih memberdayakan kegiatan belajar lebih lanjut, beik terhadap individu siswa masing-masing, maupun untuk keseluruhan informasi yang memungkinkan dapat digunakan guru dan siswa untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dan sekaligus menetapkan tingkat kesukaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan remedial, pendalaman dan pengayaan pengalaman dorongan atau motivasi belajar siswa melalui pemberian informasi tentang kemajuan belajarnya dan merangsangnya untuk melakukan perbaikan bimbingan yang tepat dalam memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan minat, keterampilan dan Penilain yaitu Mengetahui tingkat penguasaan kompetensi dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dan belum dikuasai sesorang/sekelompok peserta didik untuk ditingkatkan dalam pembelajaran remedial dan ketuntasan penguasaan kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu, yaitu harian, semester tengan, semester satu, satu tahun dan masa study satuan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi bagi mereka yang diidentifikassi sebagai peserta didik yang lambat atau cepat dalam belajar dan upaya hasil proses pembelajaran pada pertemuan semester penilaian Terdapat empat jenis penilaian acuan kriteria1. Entry-behaviors test, yaitu suatu tes yang diadakan sebelum suatu program pengajaran dilaksanakan dan bertujuan untuk mengetahui sampai batas mana penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki peserta didik yang dapat dijadikan dasar untuk menerima program pengajaran yang akan Pre-test, yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana penguasaan peserta didik terhadap bahan pengajaran pengetahuan dan keterampilan yang akan Post-test, yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan Embedded –test, yaitu tes yang dilaksanakan disela-selaatau pada waktu-waktu tertentu selama proses pengajaran berlangsung dan bertujuan untuk mengetes peserta didik secara langsung sesudah suatu unit pengajaran sebelum post-test dan untuk mencek kemajuan siswa untuk remedial sebelum IIIPENUTUPKESIMPULAN Penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi secara menyeluruh yang dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui kemampuan atau keberhasilan siswa dalam pembelajaran dengan menilai kinerja siswa baik kinerja secara individu maupun dalam kegiatan kelompok. Penilaian itu harus mendapatkan perhatian yang lebih dari seorang guru. Dengan demikian, penilaian tersebut harus dilaksanakan dengan baik, karena penilaian merupakan komponen vital utama dari pengembangan diri yang sehat, baik bagi individu siswa maupun bagi organisasi/kelompok. Tujuan penilaian ,yaitu Mengetahui tingkat penguasaan kompetensi dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan, Terbatasnya ketuntasan penguasaan kompetensi peserta didik, Dibatasi program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi, Tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi memiliki perbedaan arti dan fungsi, namun semuanya tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan sebab semuanya memiliki keterkaitan yang proses pembelajaran pada pertemuan semester berikutnya. Adapun fungsi penilaian yaitu ,Penilaian berfungsi selektif, penilaian berfungsi dianostik,Penilaian berfungsi untuk Penempatan Placement Test,Penilaian berfungsi Pengukur Keberhasilan Belajar Achievement Test.SARAN Kami dari pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu kami meminta kritik dan saran untuk pembentukan makalah dan materi yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan nagi setiap pembacanya dan dapat bermanfaat bagi kita PUSTAKAAnas Sudijono, 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta Raja Grafindo dan Suprananto,2012. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Yogyakarta Graha Chatib Thoha, MA, 1991. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta Rajawali DAN TANGGAPAN Mutiara tapsel siregar bertanya Mengapa dalam melakukan penilaian di dalam kelas diperlukan berbagai model penilaian kelas? sekian Assalamualaikum Karena model penilaian kelas bertujuan untuk memberikan informasi mengenai orientasi baru dalam penilaian hasil belajar peserta didik. memberikan rambu-rambu penilaian hasil belajar. guru juga dapat mengetahui penguasaan peserta didik terhadap karena penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan penguasaan peserta didik terhadap pelajaran serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar. Sanggahan Neka fatmala sari Karena memberikan informasi penilaian internal terhadap proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh pendidik dan memberikan wawasan tentang konsep penilaian hasil belajar Ema hopipah siregarAdanya berbagai model penilaian didalam kelas agar rambu – rambu penilaian hasil belajar , rambu – rambu disisni seperti pentuk bagaimana setelah mengetahui hasil belajar apa saja yang harus diperbaiki pada cara belajar sebelumnya ,dan rambu – rambu peringatan atau nasehat setelah mengetahui hasil nilai belajar selam pembelajaran berlangsung .Nurul indah siregar bertanya Apakah tujuan penilaian hasil belajar harus dilakukan secara berkesinambungan? Dan Bagaimana kriteria penilaian yang baik digunakan dalam pembelajaran? Sekian,wassalamualaikum wr, Iya, karena dengan penilaian hasil belajar yang dilakukan dengan berkesinambungan guru atau pendidik dapat memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektifitas kegiatan pembelajaran .Kriteria nya yaitu ,kegiatan yang bersifat mendidik , membina , memberikan latihan dan pelajaran. Untuk mengukur ketercapaian pembelajaran berdasarkan prinsip penilaian yang mencakup ,EdukatifOtentikObjektifAkuntabelTransparanYang dilakukan secara terintegrasi Nurmaisyah pulungan kel 10bertanyaDalam halam 6 tentang penilaian berfungsi Diagnostik,Bagaimana cara guru mendiagnostik terhadap peserta didik yang mengalami masalah?Jawab Diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa ketika mempelajari mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami oleh siswa ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru 1. Mengidentifikasi kasus dan melokalisasikan jenis dan sifat kesulitan belajar yang dialami Mengadakan estimasi mengenai faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami Memberi motivasi kepada peserta hal ini seorang guru harus senantiasa memantau dan menerima informasi tentang kemajuan belajar siswa. Sanggahan dari nurjelita Ada beberapa cara yang dilakukan guru yaitu 1. Memberi tes dalam bidang studi yang dianggap sulit dalam melakukan Melakukan wawancara dengan siswa yang bersangkutan untuk mengetahui pendapat siswa tentang Menganalisa hasil belajar yang telah dicapai dan informasi Melakukan observasi kegiatan siswa dalam hutabarat bertanyaApa saja bentuk bentuk penilaian di kelas yang dapat dilaksanakan oleh guru Sebutkan dan jelaskan?Jawab Tes TertulisTes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Sedangkan tes tertulis adalah alat penilaian berbasis kelas yang penyajiannya dalam bentuk tertulis. Tes ini dapat berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah, isian singkat dan uraian. Biasanya tes tertulis digunakan untuk menilai pengetahuan yang dimiliki peserta SikapSikap adalah suatu predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek Jadi penilaian sikap dapat dilakukan dalam berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan berbagai obyek. Sikap antara lain yaitu sikap terhadap mata pelajaran, sikap terhadap guru mata pelajaran, sikap terhadap proses pembelajaran, sikap terhadap materi pembelajaran dan sikap yang berhubungan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam diri peserta didik melalui materi berkesinambunganPenilaian merupakan proses yang berkesinambungan artinya penilaian harus dilakukan secara terus-menerus sepanjang rentang waktu Muti ela nurma Tes Perbuatan Tes perbuatan adalah tes yang dilakukan dengan jawabannya merupakan perbuatan dari siswa yang sedang dinilai. Tes perbuatan adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dari segi praktek dan pengetahuannya. Jadi tes ini digunakan oleh guru pada saat proses pembelajaran berlangsung yang memungkinkan terjadinya praktek, untuk mengukur indikator yang ditetapkan dalam kurikulum yang mengarah pada ranah jawaban dari rahman Contoh tes perbuatanMisalnya seorang guru menyuruh siswa untuk mengamati lingkungan sekita dan di daerah tersebut ada sampah,jadi guru tersebut melihat apa yang di lakukan oleh siswa tersebut. Apakah ada siswa yg membuang sampah tersebut pada tempatnya atau tetap jawaban dari novita irawan siregar Tes perbuatan menurut saya adalah seorang guru memberikan soal di papan tulis dan guru bertaya siapa yg bisa menjawab pertayaan boleh menjawab dan maju kedepan agar menjawabnya.
MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN KOMPONEN, FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN Dosen Pengampu DEWI WAHYUNING HIKMAH Oleh Emi Mulya Rahayu NIM FAKULTAS TARBIYAH PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH PGMI INSTITUT ILMU KE ISLAMAN ZAINUL HASAN GENGGONG KRAKSAAN – PROBOLINGGO 2019 KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya, sehingga karya tulis berjudul Dasar – Dasar Pendidikan. Ungkapan terimakasih saya sampaikan teruntuk Ayah Ibu tercinta yang telah memberikan dorongan semangat serta Do’a. Tak lupa saya sampaikan terimakasih kepada Dosen Pengampu sekaligus Pembimbing yaitu Ibu Dewi Wahyuning Hikmah yang telah membimbing kami. Tulisan ini berisi tentang “Komponen, Fungsi dan Tujuan Pendidikan”. Namun penulis menyadari bahwa karya tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Maka kritik dan saran yang bersifat membangun Penulis sangat mengharapkan demi peningkatan karya ilmiah ini dan semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Paiton, 06 Maret 2019 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... i DAFTAR ISI................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1 Latar Belakang …………………………………………....................... 1 Rumusan Masalah ……………………………….............………......... 1 Tujuan Penulisan ………………………….............……………........... 1 Manfaat ……………………………..................………………….......... 2 Ruang Lingkup …………………………………………........…..…..... 2 BAB II PEMBAHASAN…………………………………………........…............….. 3 Komponen Pendidikan……………………………………….........… 3 Macam – macam Komponen Pendidikan………………………...… 3 Fungsi Pendidikan………………………………………….........….... 6 Tujuan Pendidikan………………………………………….......…..... 6 Tujuan Pendidikan Dibedakan Menjadi Tiga………..…..…............ 7 BAB III PENUTUP………………………………………….......…............................ 9 Kesimpulan………………………………………….......…................... 9 Saran………………………………………….......….............................. 9 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 10 BAB I PENDAHULUAN Menurut anda apakah sistem pendidikan di Indonesia ini keliru? Lalu bagaimana untuk memperbaikinya? Sejauh ini kita punya cita – cita di masadepan, namun kita belum tahu bagaimana untuk mewujudkannya, Menjadi pendidik yang handal sebagai guru yang teladan yang mampu memperbaiki sistem pendidikan yang sudah ada. Ketahuilah bahwa tidak ada yang salah pada sistem pendidikan, namun kita sebagai pendidik harus mampu bersabar didalam memperbaiki sistem pendidikan yang ada saat ini. Tanpa mengetahui tujuan dari sistem pendidikan, kita akan sulit untuk memahami pendidikan seperti apa yang kita inginkan di masa depan, Sebagai agen perubahan Pendidik memegang peran yang sangat penting di dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan pendidika harus sesuai peserta didik dengan keahlian dibidangnya, mencetak generasi muda yang gemilang. Dalam tujua pendidikan ini, Pendidik harus memotivasi, sebagai pemegang peranan “Ingngarsa Sing Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani” Oleh Ki Hajar Dewantara. Tujuan pendidikan semata – mata untuk berupaya memperbaiki tingkah laku yang buruk. Memberantas kebodohan dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud Komponen Pendidikan? 2. Apa saja macam – macam Komponen pendidikan? 3. Apa fungsi utama Pendidikan? 4. Apaah tujuan Pendidikan? Tujuan penulisan 1. Sebagai salah satu syarat guna memenuhi Tugas pembuatan makalah mata kuliah “Dasar – Dasar Pendidikan” 2. Untuk memahami Komponen, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Manfaat Penulisan 1. Menambah Ilmu pengetahuan tentang dasar – dasar pendidikan bagi penulis dan pembaca. 2. Menambah kreativitas penulis dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar 3. Menambah Literatur perpustakaan Ruang Lingkup Untuk menghindari pembahasan materi ini terlalu luas, dan mengingat keterbatasan kemampuan. Pengetahuan dan waktu yang dimiliki penulis, maka ruang lingkup laporan Makalah ini terbatas pada Komponen Pendidikan, Fungsi utama Pendidikan dan Tujuan Pendidikan. BAB II PEMBAHASAN Kegiatan pendidikan adalah sebuah sistem. Sebagai sebuah sistem Pendidikan memuat beberapa komponen – komponen tertentu yang saling mempengaruhi dan memudahkan pemahaman tentang sistem, ambilah contoh sebuah sepeda, sepeda adalah sebuah sistem. Sistem terdiri dari beberapa Komponen pada sepeda terdapat beberapa Komponen yaitu, rantai, ban, sadel, rem, stang dll. Komponen tersebut membentuk berfungsinya sebuah sistem. Jika salah satu komponen mengalami kerusakan maka sistem tidak akan berfungsi demikian juga Pendidikan sebagai sebuah sistem Pendidikan terdiri dari beberapa komponen, yaitu tujuan peserta didik ,alat, dan Lingkungan. Jika salah satu komponen tidak ada maka Pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik. Macam – Macam Komponen Pendidikan Tujuan merupakan Komponen penting yang sangat menentukan bahkan merupakan esensi dari Pendidikan. Tujuan pendidikan memiliki berbagai tingkatan, mulai dari tujuam umumu tujuam khusu, tujuan tidak lengkap, tujuan sementara, tujuan intermediad dan tujuan isidental [1] Peserta didik adalah anggota masyarakat laki – laki dan perempuan yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik menurut sifatnya dapat dididik, karena mereka mempunyai bakat dan disposisi – disposisi yang memungkinkan untuk diberi pendidikan 3. Pendidik Pendidik adalah orang laki – laki dan perempuan yang dengan sengaja memengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi [2]. Secara Akdemis, pendidik adalah tenaga pendidikan, yakni anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang menyelenggaraan pendidikan. 4. Alat Pendidikan Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat komdisi – kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan pendidik, tetapi juga sebagai langkah atau situasi yang membantu pencapaian tujuan pendidikan.[3]. Ø Kategori yang membedakan alat pendidikan a. Alat Pendidikan Positif dan Negetif Alat pendidikan positif dimaksudkan sebagai alat yang ditujukan agar anak mengajarkan sesuatu yang baik. Alat Pendidikan negatif dimaksudkan agar anak tidak mengerjakan sesuatu yang buruk. b. Alat pendidikan Preventif dan Korektif Alat pendidikan preventif merupakan alat untuk mencegah anak mengerjakan sesuatu yang tidak baik, Alat pendidikan korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang telah dilakukan peserta didik. c. Alat Pendidikan yang Menyenangkan dan Tidak Menyenangkan Alat pendidikan yang menyenangkan merupakan alat yang digunakan agar peserta didik menjadi senang. Alat pendidikan yang tidak menyenangkan dimaksudkan sebagai alat yang dapat membuat peserta didik merasa tidak senang dan tidak nyaman melakukan sesuatu karena aktivitasnya tidak produktif. Lingkungan pendidikan adalah lingkungan yang melingkupi terjadinya proses pendidikan. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak karena bagian besar kehidupan anak berada di tengah – tengah keluarganya. Ø Tanggung jawab yang harus dilakukan orangtua adalah sebagai berikut a. Memelihara dan Membesarkannya. b. Melindungi dan Menjamin Kesehatannya. c. Mendidik dengan berbagai ilmu. Orangtua memiliki tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak. d. Membahagiakan kehidupan anak. Oleh sebab itu, orangtua senantiasa mengupayakan kebahagiaan anak dalam kapasitas pemenuhan kebutuhan sesuai dengan perkembangan usianya, yang diiringi dengan memberikan pendidikan agama dan akhlak yang baik. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang secara resmi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara sistematis, berencana, sengaja, dan terarah. Mulai dari tingakat kanak – kanak TK, sekolah dasar SD, Madrasah Ibtidaiyah MI sampai dengan pendidikan tinggi PT Secara umum masyarakat adalah sekumpulan manusia laki – laki dan perempuan yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan. Anggota masyarakat terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama, maupun lapisan social sehingga menjadi masyarakat yang majemuk. Selanjutnya, masyarakat memberikan pendidikan dalam lingkup yang lebih luas, termasuk didalamnya pemahaman terhadap etika dan norma masyarakat tempat peserta didik bergaul dan berinteraksi. Secara fungsional dan stuktural anggota masyarakat betanggung jawab terhadap perilaku warga di lingkungan masing – masing. Secara konsepsional, tanggung jawab pendidikan yang dibebankan kepada mereka berupa pengawasan, penyaluran, pembinaan, dan peningkatan kualitas anggotanya. Pendidikan sebagai sebuah aktivitas tidak lepas dari fungsi dan tujuan. Fungsi utama pendidikan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta peradaban yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan atau dengan kata lain pendidikan berfungsi memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan norma yang dijadikan landasannya. Setiap kegiatan, apa pun bentuk dan jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu di hadapkan apada tujuan yang ingin di capai. Bagaimanapun, segala usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa –apa. Dengan demikian, tujuan merupakan faktor yang sangat penting bagi kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan. Cita – cita dan tujuan yang ingin di nyatakan secara jelas sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui sesuatu proses kegaitan seperti pendidikan, bila tidak mempunya tujuan yang jelas untuk dicapai, maka prosesnya akan menjadi kabur. Ø Tentang tujuan pendidikan, Langeveld membedakannya menjadi enam tujuan pendidikan, yaitu Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai di akhir proses pendidikan, yaitu tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani peserta didik. Maksud kedewasaan jasmani adalah jika pertumbuhan jasmani sudah mencapai batas pertumbuhan maksimal, maka pertumbuhan jasmani tidak akan berlangsung lagi. Kedewasaan rohani adalah peserta didik sudah mampu bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Tujuan Khusus adalah tujuan tertentu yang hendak dicapai berdasar usia, jenis kelamin, sifat, bakat, intelegasi, lingkungan social budaya, terhadap perkembangan, tuntutan pekerjaan dan sebagainya. Tujuan tidak lengkap adalah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia, misalnya tujuan khusus pembentukan kecerdasan saja, tanpa tanpa memperhatikan yang lainnya. Jadi tujuan tidak lengkap ini bagian dari tujuan umum yang melengkapi perkembangan seluruh aspek kepribadian. Proses untuk mencapai tujuan umum tidak dapat dicapai secara sekaligus, karenanya perlu ditempuh setingkat demi setingkat. Tingkatan demi tingkatan diupayakan untuk menjacari tujuan akhir itulah yang di maksud tujuan sementara contohnya anak menyelesaikan pendidikan dijenjang pendidikan dasar merupakan tujuan sementara untuk selanjutnya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tujuan Intermedier adalah tujuan perantara bagi lainnya yang pokok. Misalnya, anak dibiasakan untuk menyapu halaman, maksudnya agar ia kelak mempunyai rasa tanggung jawab. Tujuan Insidental adalah tujuan yang dicapai pada saat – saat tertentu. Yang sifatnya seketika dan spontan. Misalnya, orangtua menegur anaknya agar berbicara sopan Tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu4[4] Meliputi kemampuan – kemampuan yang di harapkan dapat tercapai setelah dilakukannya proses belajar mengajar. Kemampuan tersebut meliputi pengetahuan, pengertian, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Keenam kemampuan tersebut bersifat hierarkis. Artinya, untuk mencapai semuanya harus sudah memiliki kemampuan sebelumnya. Domain Efektif berupa kemampuan untuk menerima, menjawab, menilai, membentuk dan mengkarateristik Terdiri dari kemampuan persepsi, kesiapan, dan respons terpimpin. BAB III PENUTUP Dari uraian diatas dapat dipahami secara jelas dan mendalam tentang komponen fungsi, dan tujuan pendidikan yaitu 1. Komponen pendidikan meliputi tujuan, peserta didik, pendidik, alat dan Lingkungan. 2. Fungsi utama Pendidikan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta peradaban yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan. 3. Tujuan pendidikan dibedakan jadi enam yakni tujuan umum, tujuan khusus, tujuan tidak lengkap, tujuan sementara, tujuan Intermedief serta tujuan Insidental. Lebih semangat dalam meraih Pendidikan di masa depan, agar tujuan pendidikan tercapai secara maximal DAFTAR PUSTAKA dasar penerbit kencana [4] Blum Suwarno20063435
makalah fungsi dan tujuan pendidikan